Anak Suka Berbohong – Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Posted on

ArenaWanita.com | Anak Suka Berbohong Berbohong merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Ini hanya merupakan sebuah bagian dari proses perkembangan kepribadiannya. Dalam tubuh kembangnya, anak-anak belajar tentang aturan sosial tertentu.


Mereka belajar bahwa dalam kehidupan ini ada yang dinamakan khayalan, kebohongan, dan kenyataan. Dan umumnya, perilaku berbohong ini muncul dalam diri anak ketika ia mulai bisa berbicara (rentang usia 4-9 tahun). Mungkin Anda sendiri sering melihat anak-anak yang masih kecil sudah bisa berbohong.

Setelah memasuki usia lebih 9 tahun, anak-anak mulai memahami aturan tentang tidak boleh berbohong. Mereka mulai memahami bahwa suatu yang dikatakan bukan sebenarnya itu berarti berbohong. Namun mereka masih memilah atau mempertimbangkan lagi kapan mereka bisa berbohong dan tidak.

Artinya, anak-anak belum benar-benar paham bahwa berbohong itu adalah tindakan ynag tercela. Sebab, ada kebutuhan lain yang lebih penting bagi mereka, yaitu kebutuhan untuk diterima dengan baik oleh suatu kelompok sosial tertentu.

Faktor Penyebab Anak Suka Berbohong

Anak Suka Berbohong - Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Banyak faktor yang bisa memicu munculnya kebiasaan suka berbohong pada anak. Akan tetapi, ada beberapa faktor yang palin umum dijumpai pada beberapa kasus yang terjadi. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Orang tua yang suka berbohong, baik kepada orang lain maupun kepada anak-anaknya sendiri. Hal ini secara tidak langsung telah mengajarkan kepada anak untuk berbohong.
  • Jika anak pernah dipojokan dan dihukum secara keras ketika bersalah, maka anak-anak akan memilih untuk berbohong agar bisa menghindari hukuman atas kesalahan yang dilakukannya.
  • Rasa kurang percaya diri pada anak sering kali membuatnya berbohong. Hal ini mereka lakukan untuk memberikan kesan bahwa dirinya lebih dari yang sekarang. Cara ini sering dilakukan anak ketika berada di kelompok sosial tertentu yang menurutnya lebih hebat dari dirinya.
  • Anak belum bisa membedakan mana yang imajinatif dan mana yang nyata. Akibatnya, ia menceritakan segala hal yang berasal dari imajinasinya seakan benar-benar merupakan kenyataan.
  • Tidak sedikit orang tua yang selalu berhara anaknya bisa mencapai kemampuan yang oftimal, berprestasi di sekolah, dan sebagainya. Ekspektasi yang terlalu tinggi ini terkadang bisa mendorong anak untuk berbohong.

Dampak Kebiasaan Berbohong bagi Kesehatan Fisik dan Mental Anak

Dampak buruk dari kebiasaan berbohong yang dimiliki anak dapat berpengaruh pada kesehatan mental dan fisiknya. Di antara dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut:

  • Anak yang suka berbohong bisa membuat orang lain tidak lagi percaya padanya. Kebiasaan berbohong juga akan memicu timbulnya kebohongan yang lain sehingga anak sekolah kecanduan untuk terus-menerus berbohong. Dalam hal ini, anak tidak akan lagi peduli tentang pentingnya sebuah kejujuran.
  • Bagi kesehatan fisik anak, kebiasaan berbohong juga memiliki pengaruh yang tidak kalah fatal. Pada saat berbohong, seseorang sejatinya sedang melawan apa-apa yang sebenarnya harus disampaikan. Oleh karena itu, jangan heran jika kondisi ini akan memicu terjadinya konflik batin yang tidak mustahil membuat jiwa seorang anak menjadi tertekan. Selain itu, tekanan jiwa (setelah melakukan kebohongan) akan menyebabkan gangguan jiwa (neurosis), baik depresi, ansietis, maupun gangguan fisik akibat kejiwaan berupa penyakit psikomatik. Psikomatik adalah penyakit fisik yang didasari oleh penyakit mental itu sendiri. Di samping itu, berbohonh juga dapat meningkatkan hormon stres yang bisa mengakibatkan degup jantung dan tarikan napas semakin meningkat, pencernaan melemah serta saraf dan otot menjadi sangat sensitif. Hasilnya, jika terlalu banyak berbohong, tubuh akan semakin merasa cemas dan stres.
  • Dampak buruk lain dari kebiasaan brebohong bagi kesehatan fisik anak antara lain meliputi sakit punggung, sakit kepala, defresi, pilek, menurunkan tingkat kekebalan tubuh, menyebabkan kecanduan yang tidak sehat, serta meningkatkan risiko kanker dan obesitas.

Mengatasi Anak yang Suka Berbohong

Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa Anda laukan untuk mencegah dan mengatasi anak yang suka berbohong. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Menjadi Teladan yang Baik

Menyuruh anak untuk tidak berbohong adalah hal yang mudah. Namun tentu saja, orang tua jangan hanya bisa memberikan perintah, melainkan dengan keteladanan. Jadi, Anda harus berusaha untuk bersikap jujur, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Sebab, anak-anak akan melihat dan mencontoh apa yang mereka lihat dan dengar. Hindari menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin untuk Anda tepati.

  1. Menanamkan Kejujuran Sejak Dini

Menanamkan sikap jujur dan tidak suka berbohong adalah tugas orang tua dan pendidik. Jujur itu sederhana, namun sulit sekali untuk dilakukan. Semakin dewasa usia anak, maka akan semakin sulit untuk mengajarkannya berbuat jujur. Untuk itu, ajari anak tentang makna kejujuran sejak dini. Anda adalah guru utama bagi anak-anak. Jika anak mengakui kebohongannya, Anda patut menghargai kejujurannya itu.

  1. Menghargai dan Menjadi Pendengar Setia

Mendengarkan keinginan anak bukan berarti harus mewujudkan setiap keinginannya. Namun, mendengarkan di sini adalah menunjukan antusiasme dan perhatian bahwa Anda menghargai apapun yang mereka katakan. Jadi, tempatkan anak sebagai sosok yang dihargai dan jadilah pendengar yang baik. Jika ternyata apa yang mereka katakan itu bukan hal yang sesungguhnya terjadi atau hanya khayalan mereka, Anda jangan terburu-buru marah atau menuduhnya sebagai pembohong. Akan tetapi, berikan pemahaman kepada anak bahwa apa yang dikatakannya itu adalah sesuatu yang tidak bisa menjadi kenyataan. Tentu saja, bahasa yang Anda gunakan harus bisa dipahami oleh anak.


Kata Kunci Halaman Ini:

MENU MAKANAN SEDERHANA TP MENARIK UTK ANAK UMUR 3 THN, pengaruh berbohong kepada anak, penyakit suka berbohong