Anak Suka Memerintah – Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Posted on

ArenaWanita.com | Anak  Suka Memerintah Sebenarnya, sikap suka memerintah (bossy) Pada anak, disadari atau tidak, terbentuk dari lingkungan terdekatnya, yaitu rumah. Banyak faktor yang bisa memengaruhi munculnya kebiasaan buruk ini, misalnya karena anak tumbuh dengan limpahan perhatian, anal yang dirumahnya sangat dimanja, terbiasa dilayani, dan lain sebagainya. Sebab, kita tidak dapat memungkiri bahwa perlakuan orang tua terhadap anak dapat memberikan konstribusi terhadap kompetensi sosial, emosional, dan intelektual anak.


Faktor Penyebab Anak Suka Memerintah

Anak  Suka Memerintah - Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Berikut ini ada beberapa faktor pemicu anak suka memerintah. Di antaranya adalah sebagai berikut.:

  • Anak terlalu manja sehingga menjadi tidak tegar dalam menghadapi segala persoalan yang dihadapinya. Misalnya, pada saat dirinya sedang ada masalah dengan temannya, anak cenderung takut untuk memecahkan masalah itu sendiri.
  • Orang tua yang bersikap otoriter biasanya kurang respon terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi anak. Akibatnya, ketika anak ingin memberitahukan persoalannya kepada orang tua, orang tua cenderung mengabaikannya.
  • Anak diberi kebebasan yang berlebihan. Kebebasan ini sering kali dimanfaatkan oleh anak untuk melakukan suatu tindakan yang melampaui batas.

Dampak Kebiasaan Suka Memerintah bagi Kesehatan Mental Anak

Sikap suka memerintah sebenarnya tidak selamanya seburuk yang dibayangkan, selama arah benar. Sikap ini bisa jadi menunjukan bahwa anak Anda bisa menjadi seorang pemimpin yang baik kelak. Sebab, anak yang suka memerintah biasanya memiliki rasa percaya diri yang tinggi dan inisiatifnya.

Akan tetapi. jika kebiasaan tersebut sudah mengarah ke hal-hal yang negatif, dampak yang ditimbulkan tentu sangat buruk bagi kepribadian anak itu sendiri. Berikut ini adalah beberapa dampak buruk kebiasaan suka memerintah bagi kesehatan mental anak:

  • Anak Menjadi tidak patuh, tidak bertanggung jawab, agresif, teledor, bersikap otoriter, mudah tersinggung, dan terlalu percaya diri.
  • Anak cenderung tidak peduli dengan perasaan orang lain.
  • Toleransi terhadap rasa frustasi sangat rendah dan anak akan mudah untuk melampiaskannya melalui agresi, termasuk tidakan kekerasan.
  • Anak tidak pernah merasa bersalah dan cenderung menyalahkan orang lain.
  • Anak cenderung suka mengatur teman-temannya untuk melakukan sesuatu yang diinginkannya.

Mengatasi Anak yang Suka Memerintah

Berikut ini ada beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi anak yang suka memerintah. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mengubah Pola Asuh

Jika selama ini anak terlalu dimanja atau semua keinginannya selalu dipenuhi, sebaiknya ubah kebiasaan tersebut secara perlahan-lahan. Lakukan secara bertahap agar anak tidak kaget. Anak juga bisa mengajak anak berbicara mengenai dampak dari sikapnya yang suka memerintah bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh anak.

  1. Buat Kesepakatan Bersama

Buat kesepakatan bersama dengan anak dan anggota keluarga lainnya. Apa yang harus dilakukan sendiri oleh anak dan apa yang boleh minta bantuan orang lain. Misalnya, “Kalau adik habis main, adik harus membereskan mainannya sendiri” dan lainny. Cara ini akan menanamkan pemahaman dalam diri anak bahwa ia harus bertanggung jawab atas semua yang dilakukannya tanpa harus memerintah orang lain.

  1. Arahkan dan Berikan Motivasi

Ketika anak mulai memerintah Anda atau orang lain disekitarnya, segera arahkan dan yakinkan anak bahwa ia bisa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain. Cara ini akan membuat anak menjadi lebih percaya diri dan berusaha untuk melakukan semuanya sendiri.

  1. Ajarkan Anak Sopan Santun

Sopan santun merupakan salah satu hal yang harus ditanamkan pada anak sejak dini. Untuk itu, mulailah untuk mengajarkannya kepada anak Anda. Misalnya, biasakan anak untuk meminta tolong atas sesuatu yang tidak mampu ia lakukan dan bagimana ia harus berterima kasih setelah mendapatkan bantuan dari orang lain.

  1. Konsisten dan Tegas

Kesepakatan yang sudah dibuat bersama dengan anak harus dijalankan dengan tegas dan konsisten. Kalau aturannya harus makan sendiri, maka ketika anak merengek minta disuapi, Anda jangan langsung luluh dan menyuapinya. Karena sekali Anda tidak konsisten, maka kedisiplinan tersebut akan susah untuk ditegakkan.