Anak Temper Tantrum – Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Posted on

ArenaWanita.com | Anak Temper Tantrum – Temper tantrum dalam bahasa sederhana disebut sebagai luapan kemarahan atau kekesalan. Hal ini bisa terjadi pada setiap orang. Namun, saat orang-orang membicarakan mengenai tantrum, mereka biasanya membicarakan mengenai satu hal spesifik, yaitu luapan kemarahan yang dilakukan anak kecil. Menurut Maimun Hasan, temper tantrum adalah luapan emosi yang meledak-ledak dan tidak terkontrol. Hal ini biasanya muncul pada anak usia 2-6 tahun.


Jadi, tantrum merupakan ledakan kemarahan yang terjadi secara tiba-tiba, tanpa terencana. Pada umumnya, tantrum pada anak-anak hanya terjadi sekitar 30 detik sampai 2 menit saja. Namun, jika kemarahan berlanjut sampai pada tingkat yang membahayakan dirinya atau orang lain, maka ini bisa menjadi hal yang sangat serius.

Anak Temper Tantrum - Penyebab, Dampak dan Cara Mengatasinya

Temper tantrum termanifestasi dalam berbagai perilaku, seperti suka menangis, menggigit, memukul, menendang, menjerit, memekik, melengkungkan punggung, melempar badan ke lantai, memukul-mukulkan tangan, menahan napas, menghentakkan kaki, meninju sembarangan, membanting pintu, mengkritik, dan sebagainya.

Faktor Penyebab Anak Temper Tantrum

Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya temper tantrum pada anak. Di antaranya adalah sebagai berikut.

  • Anak-anak akan melakukan tantrum dengan maksud untuk menekan orang tua agar keinginannya terpenuhi, misalnya ketika anak ingin dibelikan mainan. Jika Anda tidak memenuhi keinginan tersebut, maka anak akan menangis sambil berguling-guling sampai Anda mau membelikan mainan yang dimaksud.
  • Anak-anak, khusunya anak pada usia 3 tahun pertama, memiliki keterbatasan dalam bahasa. Ketika anak ingin mengungkapkan sesuatu dan tidak dimengerti oleh orang tuanya, maka anak akan frustasi dan memicu munculnya perilaku tantrum.
  • Anak yang terlalu dimanja dan selalu mendapatkan apa yang diinginkan akan melakukan tantrum ketika keinginannya tidak dipenuhi oleh orang tua. Selain itu, anak yang mendapatkan pola asuh secara otoriter, sekali waktu karena rasa tertekan anak, maka anak tersebut akan melakukan tantrum.
  • Perasaan tidak enak yang muncul saat lelah dan sakit atau ketika lapar dan kebutuhan itu tidak juga terpenuhi maka akan membuat anak menjadi tantrum.
  • Stres atau frustasi adalah perasaan tertekan yang dialami banyak anak, begitu juga ketika anak merasa tidak aman, misalnya dalam persaingan antar saudara dan sebagainya. Hal ini akan memicu anak melakukan tantrum sebagai pelampiasan dari rasa tertekan yang dialami anak tersebut.

Dampak Perilaku Temper Tantrum bagi Kesehatan Fisisk dan Mental Anak

Tantrum dianggap berbahaya jika tampil dalam bentuk perilaku agresif, baik menyakiti orang lain ataupun diri sendiri. Apalagi, hal tindakan tersebut tidak jarang justru menimbulkan masalah baru akibat kerusakan yang dihasilkannya. Berikut adalah beberapa dampak yang bisa ditimbulkan dari perilaku temper tantrum pada anak:

  • Memiliki kebiasaan tidur, makan, dan buang air besar yang tidak tertaur, sehingga hal ini menyebabkan anak menjadi tidak sehat secara fisik.
  • Anak akan sulit untuk menyukai situasi dan orang-orang baru.
  • Anak akan lambat untuk beradaptasi dengan perubahan.
  • Suasana hati anak sering kali negatif.
  • Anak mudah terprovokasi, mudah merasa marah, atau kesal.
  • Anak sulit untuk dialihkan perhatiannya.
  • Anak suka menentang dan membangkang.
  • Anak cenderung bersikap individualis.
  • Anak cenderung keras kepala.

Mengatasi Anak Temper Tantrum

Di bawah ini ada beberapa cara yang bisa Anda gunakan untuk mengatasi perilaku tantrum pada anak. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Cari Tahu Penyebabnya

Langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang tua adalah mencari tahu penyebab munculnya temper tantrum pada anak. Dengan demikian, orang tua akan lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengatasinya.

  1. Mengantisipasi Tantrum

Sebaiknya, lakukan tidakan pencegahan sebelum anak mengalami stres. Misalnya, sebelum anak merasa terlalu lapar, Anda harus segera memberi anak makan. Tanyakan pada anak apakah ia sudah lapar atau tidak. Jika tidak, jangan paksa anak untuk makan.

  1. Jangan Terpancing Emosi Anak

Biasanya, jika anak sedang emosi atau marah-marah yang menunjukan sifat tantrumnya, orang tua akan ikut terprovokasi dan ikut-ikutan marah. Bahkan, banyak orang tua yang menunjukan kemarahannya dengan tindakan, seperti memukul dan mencubit anak. Padahal, itu bukanlah solusi yang tepat untuk menghentikan kebiasaan tersebut. Sebaliknya, anak bukannya akan belajar mengatasi kemarahan, tapi malah semakin menganggap Anda keras dan otoriter. Untuk itu, Anda tidak boleh terpancing oleh emosi yang ditunjukan oleh anak.

  1. Abaikan dan Ajarkan Anak untuk Mengatasi kemarahannya

Jangan pernah menuruti semua hal yang diinginkan anak pada saat itu juga. Bersikap cuek dan tidak mempedulikan kemarahannya anak tahu bahwa kemarahannya tidak bisa membeli keinginannya. Sampaikan padanya bahwa ia akan mendapatkan keinginannya tersebut jika menyampaikannya dengan cara yang baik.

  1. Alihkan Perhatian Anak

Ketika Anda melihat bahwa anak akan menunjukan perilaku tantrum, usahakan untuk mengalihkan perhatiannya. Misalnya, tunjukan mainan baru atau kejadian yang sedang terjadi di luar rumah dengan mengatakan “Sepertinya adatamu yang datang. Tuk kita lihat ”. Cara-cara seperti ini biasanya cukup manjur untuk mengalihkan perhatianya.

  1. Perhatikan Pola Tingkah Laku Anak

Jika anak sering menunjukan tantrum, sebaiknya Anda mencatat apa yang terjadi sebelum tantrumnya itu meledak. Selain itu, perhatikan pula situasi yang bisa memicu tantrum pada anak. Misalnya, jika tantrum sering terjadi saat Anda menyiapkan makan siang, cobalah membiarkannya untuk membantu Anda menyiapkan meja makan atau memberikan mainan yang menarik sebelum Anda menyiapkan makanannya.

  1. Jangan Dibantah

Pada saat anak tantrum, hindari berargumentasi atau mencoba menjelaskan tindakan anak tersebut. sebab, anak yang tantrum tidak akan mengerti atau mendengar apa yang Anda katakan. Bahkan, mereka tidak akan menghentikan teriakannya meskipun Anda menjelaskan apapun pada anak tersebut. Tunggu sejenak dan biarkan emosinya mereda jika Anda ingin mengajaknya berbicara.


Kata Kunci Halaman Ini:

mengatasi anak tantrum