Sebelum Masuk Puasa Pertama Besok Baca ini Dulu .. Biar Gak Salah Faham Ternyata ! Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah, Adalah Hadits Palsu… Ini Penjelasannya

Posted on

Pertanyaan :

Saya pernah mendengar orang berkata kalau tidurnya orang berpuasa itu yaitu beribadah. Namun hingga sekarang ini saya tidak paham, apakah benar hal semacam itu? Bila memanglah benar, apakah itu adalah hadits nabi atau bukan? Serta bila memanglah hadits nabi, riwayatnya dan statusnya bagaimana?
Terima kasih atas jawabannya ustadz

Jawaban :

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ungkapan seperti yang anda berikan, yakni tidurnya orang berpuasa adalah beribadah memanglah seringkali kita dengar, baik di pengajian maupun di beberapa majelis. Serta seringkali kita dengar saat memasuki bln. Ramadhan.

Diantara lafadznya yang paling popular yaitu sekian :

“Tidurnya orang puasa adalah beribadah, diamnya adalah tasbih, amalnya dilipat-gandakan (pahalanya), doanya dikabulkan serta dosanya diampuni.”

Walau didalam kandungan hadits ini ada banyak hal yang sesuai sama hadits-hadits yang shahih, seperti permasalahan dosa yang diampuni dan pahala yang dilipat-gandakan, tetapi untuk lafadz ini, beberapa ulama setuju menyampaikan status kepalsuannya.

Sebelum Masuk Puasa Pertama Besok Baca ini Dulu .. Biar Gak Salah Faham Ternyata ! Hadits Tidurnya Orang Puasa Adalah Ibadah, Adalah Hadits Palsu... Ini Penjelasannya

Yaitu Al-Imam Al-Baihaqi yang menuliskan lafadz itu didalam kitabnya, Asy-Syu’ab Al-Iman. Lantas dinukil oleh As-Suyuti didalam kitabnya, Al-Jamiush-Shaghir, seraya mengatakan kalau status hadits ini dhaif (lemah).

Tetapi status dhaif yang didapatkan dari As-Suyuti malah dikritik oleh beberapa muhaddits yang lain. Menurut umumnya mereka, status hadits ini tidak cuma dhaif tapi juga hadits maudhu’ (palsu).

Hadits Palsu

Al-Imam Al-Baihaqi sudah mengatakan kalau ungkapan ini bukanlah adalah hadits nabawi. Karna didalam jalur periwayatan hadits itu ada perawi yang bernama Sulaiman bin Amr An-Nakhahi, yang kedudukannya yaitu pemalsu hadits.

Hal senada di sampaikan oleh Al-Iraqi, yakni kalau Sulaiman bin Amr ini termasuk juga kedalam daftar beberapa pendusta, dimana pekerjaannya yaitu pemalsu hadits.

Komentar Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga makin memperkuat kepalsuan hadits ini. Beliau menyampaikan kalau si Sulaiman bin Amr ini memang sungguh-sungguh seseorang pemalsu hadits.

Bahkan juga lebih keras lagi yaitu ungkapan Yahya bin Ma’in, beliau tidak cuma menyampaikan kalau Sulaiman bin Amr ini pemasu hadits, namun beliau memberikan kalau Sulaiman ini yaitu ” manusia paling pendusta di muka bumi ini! “.

Setelah itu, kita juga mendengar komentar Al-Imam Al-Bukhari mengenai tokoh kita yang satu ini. Beliau menyampaikan kalau Sulaiman bin Amr yaitu matruk, yakni haditsnya semi palsu karena dia seseorang pendusta.

Karena sangat tercelanya perawi hadits ini, beberapa hingga Yazid bin Harun menyampaikan kalau siapa saja tak halal meriwayatkan hadits dari Sualiman bin Amr.

Iman Ibnu Hibban juga turut memberi komentar, ” Sulaiman bin AmrAn-Nakha’i yaitu orang Baghdad yang dengan cara lahiriyah adalah orang shalih, sayangnya dia memalsu hadits. Info ini dapat kita bisa didalam kitab Al-Majruhin Minal Muhadditsin Wadhdhu’afa Wal-Matrukin. Dapat juga kita temui didalam kitab Mizanul I’tidal.

Rasa-rasanya info tegas dari beberapa pakar hadits senior mengenai kepalsuan hadits ini telah cukup komplit, jadi kita tak perlu lagi beberapa sangsi untuk selekasnya buang ungkapan ini dari dalil-dalil kita. Serta tak benar kalau tidurnya orang puasa itu adalah beribadah.

Oleh karenanya, aksi beberapa saudara kita untuk banyak-banyak tidur di dalam hari bln. Ramadhan dengan argumen kalau tidur itu beribadah, beberapa terang tak ada dasarnya. Terlebih mengingat Rasulullah SAW juga tak pernah mencontohkan untuk menggunakan saat siang hari untuk tidur.

Bila juga ada arti qailulah, jadi prakteknya Rasulullah SAW cuma sesaat memejamkan mata. Serta yang namanya sesaat, paling-paling cuma sekitaran 5 hingga 10 menit saja. Tak berjam-jam hingga meninggalkan pekerjaan serta pekerjaan.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Referensi: rumahfiqih.com

Kata Kunci Halaman Ini:

https://goo gl/l32OQ3, sayur yang baik untuk pencernaan